Phone Number

+6282317094857

LEBIH DARI SATU DEKADE PARIWISATA SONGGON EKSIS, MENGAPA MANFAAT EKONOMINYA BELUM MERATA?

Keterangan Gambar : Sebab, pariwisata yang sesungguhnya bukan hanya tentang berapa banyak wisatawan yang datang, melainkan seberapa luas manfaatnya menyebar—hingga ke kebun, kandang, warung, rumah produksi, dan dapur-dapur warga.


By Admin 24 Okt 2026, 09:01:10 WIB 0 Comments

LEBIH DARI SATU DEKADE PARIWISATA SONGGON EKSIS, MENGAPA MANFAAT EKONOMINYA BELUM MERATA?

Oleh: Yusuf S. – Elang Raung
Pegiat Lingkungan dan Wisata Berbasis Pemberdayaan

Edisi: Sabtu, 24 Oktober 2026

SONGGON, BANYUWANGI — Lebih dari satu dekade pariwisata Songgon tumbuh dan berkembang. Sejak sekitar 2010–2011, ketika Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mulai memperkuat pembangunan daerah melalui berbagai program, termasuk gerakan Banyuwangi Green and Clean (BGCP), geliat wisata di Kecamatan Songgon mulai menunjukkan perkembangan yang semakin nyata.

Salah satu tonggak pentingnya adalah munculnya aktivitas arung jeram dan river tubing yang memanfaatkan aliran Sungai Badeng. Inisiatif komunitas pemuda di Desa Sumberbulu melalui X-Badeng Adventure menjadi bagian dari perjalanan awal pengembangan wisata berbasis alam di Songgon.

Dari inisiatif tersebut, semangat mengembangkan potensi wisata mulai menyebar ke berbagai desa. Air terjun, sumber mata air, perkebunan, wisata alam, kebudayaan, hingga destinasi buatan perlahan tumbuh menjadi bagian dari wajah pariwisata Songgon.

Kini, pada 2026, Songgon memiliki beragam pilihan destinasi yang menarik kunjungan wisatawan. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, ada pertanyaan mendasar yang patut diajukan: setelah lebih dari 15 tahun berkembang, sejauh mana pariwisata Songgon telah memberikan manfaat ekonomi secara merata kepada masyarakat?

Pertanyaan ini penting karena bertambahnya destinasi tidak otomatis menjamin meningkatnya kesejahteraan seluruh warga. Aktivitas wisata memang dapat menggerakkan ekonomi, tetapi perputaran uang belum tentu menjangkau semua lapisan masyarakat. Sebagian pelaku usaha mungkin memperoleh manfaat langsung, sementara petani, peternak, perajin, pedagang kecil, dan kelompok masyarakat lainnya belum sepenuhnya terhubung dengan pasar wisata.

Kondisi tersebut perlu menjadi bahan evaluasi bersama. Keberhasilan pariwisata tidak semestinya hanya diukur dari jumlah destinasi yang tumbuh, fasilitas yang dibangun, atau wisatawan yang datang, tetapi juga dari seberapa luas masyarakat memperoleh kesempatan untuk terlibat dan menikmati manfaat ekonominya.

Songgon pun bukan wilayah yang baru mengenal pariwisata. Rowo Bayu, misalnya, telah dikenal sebagai tujuan kunjungan sejak dekade 1990-an.

Artinya, Songgon memiliki pengalaman panjang, kekayaan alam, dan modal sosial yang dapat menjadi fondasi pengembangan ekonomi masyarakat berbasis pariwisata.

Lantas, mengapa manfaat ekonomi tersebut belum sepenuhnya menjangkau masyarakat secara merata, hingga ke kebun, kandang, warung, dan dapur-dapur warga?

JEBAKAN POLA PIKIR LAMA: WISATA HANYA MILIK PENGELOLA DESTINASI

Belum optimalnya keterlibatan masyarakat dalam ekonomi pariwisata perlu dilihat dari berbagai sisi, termasuk cara pandang terhadap peluang usaha yang muncul dari aktivitas wisata.

Masih ada anggapan bahwa manfaat ekonomi pariwisata hanya bisa dinikmati oleh mereka yang memiliki atau mengelola destinasi. Seolah-olah, untuk mendapatkan penghasilan dari wisatawan, seseorang harus mempunyai objek wisata, mengelola wahana, atau membuka usaha di dalam kawasan wisata.

Padahal, cara pandang tersebut terlalu sempit.

Pariwisata bukan sekadar destinasi. Pariwisata adalah ekosistem ekonomi yang menghubungkan banyak sektor, mulai dari pertanian, perkebunan, peternakan, perdagangan, transportasi, kuliner, kerajinan, hingga kebudayaan.

Wisatawan tidak hanya membutuhkan tempat untuk dikunjungi. Mereka juga membutuhkan makanan, minuman, penginapan, transportasi, produk lokal, pengalaman budaya, dan buah tangan untuk dibawa pulang.

Seluruh kebutuhan itu merupakan peluang usaha yang dapat dimanfaatkan masyarakat, sepanjang tersedia produk yang sesuai, kualitas yang terjaga, harga yang kompetitif, dan akses pasar yang memadai.

Petani tidak harus menjadi pengelola destinasi untuk mendapatkan manfaat dari wisatawan. Peternak tidak harus membangun objek wisata untuk menawarkan pengalaman edukasi. Pelaku UMKM pun tidak harus memiliki wahana wisata untuk memasarkan produknya.

Yang dibutuhkan adalah kemampuan membaca kebutuhan pasar, mengemas potensi lokal, membangun jejaring dengan pelaku wisata, dan menciptakan produk atau layanan yang relevan dengan kebutuhan pengunjung.

Karena itu, edukasi pariwisata kepada masyarakat perlu diperluas. Bukan hanya mengajarkan cara mengelola destinasi, melainkan juga membuka wawasan bahwa setiap potensi lokal dapat menjadi bagian dari rantai ekonomi pariwisata.

Persoalannya bukan sekadar apakah masyarakat memiliki potensi, melainkan apakah potensi tersebut telah terhubung dengan kebutuhan wisatawan dan memiliki jalur pemasaran yang jelas.

POTENSI YANG TERTINGGAL DI KEBUN DAN KANDANG

Berada di kawasan kaki Gunung Raung, Songgon memiliki sumber daya alam dan potensi usaha masyarakat yang beragam. Kondisi tersebut membuka peluang untuk mengembangkan pariwisata yang tidak berdiri sendiri, tetapi terintegrasi dengan pertanian, perkebunan, peternakan, perdagangan, dan kehidupan sosial masyarakat.

Persoalannya bukan semata-mata kekurangan potensi, melainkan bagaimana potensi itu diolah, dikemas, dan dihubungkan dengan pasar wisata.

1. Pertanian dan perkebunan: durian dan kopi harus naik kelas

Durian merupakan salah satu komoditas yang berpotensi menjadi daya tarik ekonomi Songgon. Namun, nilai ekonominya tidak seharusnya berhenti pada penjualan buah segar ketika musim panen tiba.

Nilai tambah dapat dikembangkan melalui pengolahan produk turunan, seperti dodol durian, aneka kudapan, olahan beku, dan produk pangan lainnya yang sesuai dengan standar keamanan pangan serta kebutuhan pasar.

Dengan pengemasan yang baik, identitas produk yang kuat, dan pemasaran yang konsisten, olahan durian dapat menjadi pilihan oleh-oleh khas Songgon. Langkah ini juga membuka peluang memperpanjang masa pemasaran produk di luar musim panen.

Hal serupa berlaku bagi kopi Songgon.

Pengembangan usaha kopi perlu diikuti dengan penciptaan pengalaman wisata berbasis perkebunan. Wisatawan dapat diajak mengenal proses budidaya, memetik buah pada musim yang tepat, melihat pengolahan pascapanen, menyangrai biji, hingga menikmati hasil seduhan.

Melalui pendekatan tersebut, petani tidak hanya menjual hasil panen, tetapi juga berpeluang memperoleh pendapatan tambahan dari kegiatan edukasi, paket kunjungan, dan penjualan produk secara langsung.

Tentu, pengembangan ini membutuhkan kesiapan petani, standar pelayanan, pengelolaan kunjungan, dan kerja sama dengan pengelola destinasi maupun agen perjalanan.

Kuncinya adalah mengubah komoditas menjadi produk bernilai tambah dan pengalaman wisata, sekaligus memastikan manfaat ekonominya tetap dinikmati masyarakat setempat.

2. Peternakan: dari kandang menjadi ruang edukasi

Peternakan kambing dan sapi juga menyimpan peluang yang layak dijajaki.

Kandang yang dikelola dengan baik dapat dikembangkan menjadi lokasi edukasi peternakan bagi pelajar, keluarga, komunitas, dan kelompok yang tertarik pada pertanian terpadu.

Kegiatannya dapat mencakup pengenalan jenis ternak, pengelolaan pakan, pemeliharaan, pengolahan pupuk organik, hingga edukasi pemerahan susu apabila jenis ternak dan kondisi produksinya memungkinkan.

Namun, wisata edukasi peternakan tidak cukup hanya dengan mengundang pengunjung melihat ternak. Diperlukan perencanaan kegiatan, pemandu yang memahami materi, fasilitas yang memadai, serta pengaturan kunjungan yang tidak mengganggu aktivitas produksi.

Kebersihan, kesehatan ternak, keselamatan pengunjung, dan kesejahteraan hewan juga harus menjadi prioritas.

Dengan pendampingan yang tepat, peternak dapat memperoleh sumber pendapatan tambahan tanpa harus meninggalkan usaha utama mereka.

Di sisi lain, kegiatan tersebut dapat memperkenalkan dunia peternakan kepada generasi muda sebagai bidang usaha yang memiliki nilai ekonomi, pengetahuan, dan peluang pengembangan.

3. Pertanian pangan: membangun pusat edukasi ketahanan pangan

Lahan pertanian dan sumber air di sejumlah wilayah Songgon merupakan modal penting bagi pengembangan wisata edukasi pertanian.

Potensi tersebut dapat dikembangkan melalui kegiatan pengenalan proses produksi pangan, pembibitan, pengelolaan lahan, pengomposan, pemanfaatan pupuk organik, serta praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.

Sekolah, kelompok tani, komunitas lingkungan, dan masyarakat perkotaan dapat menjadi pasar potensial bagi kegiatan edukasi semacam ini.

Pengembangan pertanian organik juga dapat dijajaki, dengan tetap memperhatikan kesiapan petani, biaya produksi, proses sertifikasi apabila diperlukan, serta kepastian pasar.

Yang tidak kalah penting, wisata edukasi pertanian harus dirancang agar tidak mengganggu produktivitas lahan. Kegiatan kunjungan perlu menyesuaikan kalender tanam, kondisi kebun, dan kebutuhan petani.

Dengan demikian, lahan pertanian tidak hanya menghasilkan komoditas, tetapi juga berpotensi menjadi ruang pembelajaran sekaligus sumber pendapatan alternatif bagi pemilik lahan.

4. Jasa dan perdagangan di jalur utama: etalase ekonomi yang perlu diperkuat

Jalan utama dan jalur penghubung menuju destinasi wisata seharusnya tidak hanya menjadi lintasan kendaraan pengunjung. Kawasan tersebut juga dapat berfungsi sebagai etalase ekonomi masyarakat.

Usaha kuliner, kedai kopi, penjualan produk pertanian, sentra oleh-oleh, bengkel kendaraan, jasa transportasi lokal, hingga penginapan berbasis rumah warga merupakan beberapa peluang yang dapat dikembangkan sesuai kebutuhan pasar.

Kuliner dengan pengaruh budaya Osing, Jawa, dan Madura, misalnya, dapat menjadi bagian dari identitas gastronomi Songgon. Produk lokal yang dikemas dengan baik juga berpeluang menjadi pilihan oleh-oleh bagi wisatawan.

Selain itu, masyarakat dapat menawarkan jasa pemandu lokal, penyewaan perlengkapan wisata, transportasi antardestinasi, dan informasi perjalanan.

Namun, pengembangan usaha di jalur wisata tidak cukup hanya mengandalkan lokasi strategis. Pelaku usaha tetap membutuhkan pemahaman tentang perilaku konsumen, kualitas pelayanan, kebersihan, penetapan harga, promosi, dan pengelolaan keuangan.

Tidak semua usaha harus dibangun dalam skala besar. Usaha mikro dan kecil justru dapat menjadi fondasi pemerataan ekonomi apabila tumbuh secara konsisten, memiliki pasar yang jelas, dan terhubung dengan aktivitas wisata.

5. Kebudayaan majemuk: modal sosial yang perlu diberi ruang

Keragaman budaya Osing, Jawa, dan Madura merupakan bagian dari kekayaan sosial yang dapat memperkuat karakter pariwisata Songgon.

Kebudayaan bukan sekadar pelengkap pertunjukan, melainkan bagian dari identitas dan kehidupan masyarakat yang memiliki nilai tersendiri.

Kesenian tradisional, kuliner keluarga, cerita sejarah lokal, kerajinan, tradisi masyarakat, serta pengetahuan tentang lingkungan dapat dikembangkan menjadi pengalaman wisata yang bermakna.

Bentuknya dapat berupa agenda kesenian berkala, lokakarya kerajinan, tur cerita sejarah desa, kelas memasak makanan tradisional, atau kegiatan mengenal budaya lokal bersama warga.

Pengembangannya harus dilakukan dengan menghormati nilai-nilai masyarakat, melibatkan pelaku budaya sebagai pemilik pengetahuan, serta memastikan adanya pembagian manfaat ekonomi yang adil.

Jangan sampai kebudayaan hanya dijadikan komoditas promosi, sementara orang-orang yang menjaga dan mewariskannya tidak memperoleh penghargaan yang layak.

Dengan pendekatan yang tepat, kebudayaan dapat menjadi ruang pewarisan tradisi sekaligus sumber penghidupan masyarakat.

MASYARAKAT MEMBUTUHKAN DEMPLOT, BUKAN SEKADAR SOSIALISASI

Mengembangkan seluruh peluang tersebut tentu tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat.

Perubahan pola pikir, peningkatan keterampilan, penguatan kelembagaan, pengembangan produk, hingga pembentukan pasar membutuhkan proses yang berkelanjutan.

Karena itu, pemberdayaan masyarakat tidak cukup berhenti pada sosialisasi, seminar, atau pelatihan sesaat. Kegiatan semacam itu dapat menjadi langkah awal, tetapi harus diikuti pendampingan dan penerapan nyata di lapangan.

Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah membangun demplot atau proyek percontohan usaha berbasis potensi lokal yang terhubung langsung dengan kebutuhan pariwisata.

«Masyarakat tidak cukup hanya diberi tahu tentang peluang. Mereka perlu melihat contoh nyata bahwa potensi yang selama ini ada di sekitar mereka dapat menghasilkan pendapatan melalui kegiatan pariwisata.»

Bayangkan jika satu dusun mengembangkan wisata edukasi petik kopi. Dusun lain menjadi sentra olahan durian. Kelompok peternak mengembangkan edukasi peternakan. Sementara kelompok masyarakat lainnya membangun usaha kuliner, kerajinan, atau paket pengalaman budaya.

Setiap proyek percontohan harus memiliki model usaha yang jelas, pendampingan teknis, perhitungan biaya dan pendapatan, standar kualitas, serta akses pemasaran yang terukur.

Pelaksanaannya dapat dimulai dari skala kecil dengan melibatkan kelompok masyarakat yang siap, kemudian dievaluasi sebelum dikembangkan ke wilayah lain.

Keberhasilan proyek percontohan tidak boleh hanya diukur dari terselenggaranya kegiatan atau tersedianya fasilitas. Ukurannya harus mencakup kemampuan usaha bertahan, jumlah transaksi yang tercipta, tambahan pendapatan warga, keterlibatan tenaga kerja lokal, dan keberlanjutan pasarnya.

Pengelola destinasi pun perlu dilibatkan agar wisatawan tidak hanya datang, menikmati objek, lalu pulang tanpa berinteraksi dengan ekonomi masyarakat sekitar.

Kerja sama dapat dibangun melalui paket kunjungan, rekomendasi produk lokal, kalender kegiatan, promosi bersama, dan kemitraan penjualan dengan pelaku UMKM.

Pengelola destinasi, misalnya, dapat memasukkan produk petani dan UMKM ke dalam paket wisata, menyediakan ruang pemasaran produk lokal, atau bekerja sama dengan kelompok masyarakat untuk menawarkan kegiatan edukasi.

Dengan begitu, hubungan antara destinasi dan masyarakat tidak berhenti pada kedekatan geografis, tetapi berkembang menjadi hubungan ekonomi yang saling menguntungkan.

Ketika masyarakat melihat usaha di lingkungannya mampu memperoleh pendapatan dari wisatawan tanpa harus memiliki destinasi sendiri, peluang untuk mengubah pola pikir akan semakin terbuka.

Di sinilah peran pemerintah desa, pemerintah kecamatan, pemerintah kabupaten, pengelola destinasi, kelompok sadar wisata, komunitas pemuda, pelaku usaha, lembaga pendidikan, dan pendamping masyarakat menjadi penting.

Mereka tidak cukup hanya menyampaikan bahwa Songgon memiliki banyak potensi. Mereka perlu bekerja bersama untuk memastikan potensi tersebut terhubung dengan usaha, pasar, dan manfaat ekonomi yang nyata.

MEMBANGUN RANTAI PASOK LOKAL: UANG WISATAWAN JANGAN CEPAT KELUAR DARI SONGGON

Ada satu persoalan penting yang perlu mendapat perhatian lebih serius: seberapa besar uang yang dibelanjakan wisatawan benar-benar berputar di dalam ekonomi lokal?

Wisatawan mungkin membayar tiket masuk, membeli makanan, menyewa kendaraan, atau menginap di suatu tempat. Namun, sebagian kebutuhan usaha pariwisata bisa saja dipasok dari luar wilayah, mulai dari bahan pangan, minuman, perlengkapan usaha, hingga produk oleh-oleh.

Dalam kondisi seperti itu, aktivitas wisata memang menciptakan transaksi, tetapi sebagian nilai ekonominya mengalir keluar dari wilayah.

Karena itu, Songgon perlu memperkuat rantai pasok lokal.

Pengelola destinasi dapat memetakan kebutuhan rutin usahanya, kemudian mengidentifikasi petani, peternak, produsen pangan, perajin, dan UMKM yang mampu memasok kebutuhan tersebut.

Restoran dan warung wisata dapat menjalin kerja sama dengan petani setempat. Penginapan dapat menggunakan produk lokal sebagai bagian dari layanan. Pengelola destinasi dapat menyediakan ruang bagi pemasaran hasil produksi warga.

Kerja sama itu perlu dibangun berdasarkan kesepakatan yang jelas mengenai kualitas, harga, jumlah pasokan, jadwal pengiriman, dan sistem pembayaran.

Masyarakat pun perlu didampingi agar mampu memenuhi standar kebutuhan pasar secara konsisten.

Semakin banyak kebutuhan pariwisata yang dapat dipenuhi oleh pelaku usaha lokal, semakin besar peluang nilai ekonomi wisata untuk berputar dan menciptakan manfaat di dalam wilayah Songgon.

Tentu, hal tersebut bukan berarti seluruh kebutuhan harus dipenuhi secara lokal. Prinsipnya adalah mengidentifikasi kebutuhan yang realistis untuk dipasok masyarakat, lalu membangun kemitraan yang sehat dan saling menguntungkan.

Dengan demikian, pertumbuhan destinasi dapat mendorong tumbuhnya usaha pendukung, bukan sekadar meningkatkan transaksi di dalam kawasan wisata.

MENGUKUR KEBERHASILAN DARI MANFAAT YANG DIRASAKAN WARGA

Sudah saatnya keberhasilan pariwisata Songgon tidak hanya diukur dari jumlah destinasi, pembangunan fasilitas, atau banyaknya pengunjung yang melewati pintu masuk objek wisata.

Ukuran keberhasilan juga perlu mencakup seberapa besar manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat.

Berapa banyak UMKM lokal yang terlibat dalam rantai pasok pariwisata? Berapa banyak produk petani dan peternak yang terserap? Berapa banyak usaha warga yang memperoleh tambahan pendapatan? Berapa banyak tenaga kerja lokal yang terserap? Dan sejauh mana peluang tersebut terbuka bagi masyarakat di luar kawasan destinasi utama?

Pertanyaan-pertanyaan ini perlu dijawab melalui data, bukan sekadar perkiraan atau kesan.

Pemerintah dan para pemangku kepentingan dapat mulai dengan memetakan rantai ekonomi pariwisata Songgon. Pemetaan tersebut perlu mengidentifikasi kebutuhan wisatawan, jenis usaha yang sudah tumbuh, produk yang masih didatangkan dari luar daerah, potensi pemasok lokal, serta kelompok masyarakat yang belum terhubung dengan pasar wisata.

Dari situ, program pemberdayaan dapat dirancang secara lebih terarah.

Pelatihan, misalnya, tidak lagi diberikan hanya karena suatu kelompok dianggap membutuhkan pelatihan, tetapi berdasarkan peluang usaha yang nyata dan kebutuhan pasar yang telah dipetakan.

Pendampingan pun tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Harus ada tindak lanjut untuk membantu pelaku usaha memperbaiki produk, menghitung biaya produksi, menentukan harga, mengakses pemasaran, dan membangun kemitraan.

Evaluasi berkala diperlukan untuk mengetahui apakah program benar-benar meningkatkan transaksi, membuka lapangan kerja, menambah pendapatan, dan memperluas keterlibatan masyarakat.

Dengan ukuran yang jelas, keberhasilan program dapat dinilai secara lebih objektif dan perbaikan dapat dilakukan berdasarkan hasil di lapangan.

PERTUMBUHAN EKONOMI HARUS SEJALAN DENGAN KELESTARIAN LINGKUNGAN

Pemerataan manfaat pariwisata tidak boleh dicapai dengan mengorbankan lingkungan yang menjadi fondasi utamanya.

Kelestarian sungai, hutan, sumber air, lahan pertanian, dan keanekaragaman hayati merupakan bagian penting dari daya tarik Songgon. Jika lingkungan rusak, kualitas pengalaman wisata dapat menurun dan mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada sumber daya alam ikut terancam.

Karena itu, pengembangan usaha berbasis pariwisata perlu memperhatikan daya dukung lingkungan, pengelolaan sampah, penggunaan air, tata kelola lahan, dan keselamatan pengunjung.

Destinasi wisata alam perlu memiliki pengelolaan sampah yang jelas. Kegiatan di sungai harus memperhatikan keselamatan dan kondisi lingkungan. Pengembangan wisata di lahan pertanian maupun peternakan harus disesuaikan dengan fungsi utama lahan dan kebutuhan produksi.

Masyarakat lokal juga perlu dilibatkan dalam pengambilan keputusan, bukan hanya ditempatkan sebagai penerima program atau tenaga kerja.

Dengan demikian, pariwisata dapat berkembang sebagai kegiatan ekonomi yang menjaga sumber penghidupan masyarakat untuk jangka panjang.

SAATNYA MENGGESER UKURAN KEBERHASILAN PARIWISATA SONGGON

Lebih dari satu dekade perjalanan pariwisata Songgon telah memberikan pengalaman dan modal penting untuk melangkah lebih jauh.

Tantangan berikutnya bukan hanya menambah destinasi atau mendatangkan lebih banyak wisatawan, tetapi membangun sistem yang menghubungkan aktivitas wisata dengan kehidupan ekonomi masyarakat secara lebih luas.

Pemerintah perlu memperkuat pemetaan potensi dan rantai pasok lokal. Pengelola destinasi perlu membuka ruang kemitraan dengan masyarakat. Pelaku usaha perlu meningkatkan kualitas produk dan pelayanan. Lembaga pendidikan dapat membantu pengembangan keterampilan dan inovasi. Sementara itu, komunitas dan kelompok masyarakat perlu diberi ruang untuk berpartisipasi dalam merancang serta menjalankan usaha yang sesuai dengan potensi wilayahnya.

Seluruh pihak memiliki tanggung jawab masing-masing, tetapi keberhasilan hanya dapat dicapai jika kerja sama tersebut menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan secara nyata.

Keberhasilan pariwisata bukan semata-mata ketika destinasi ramai dikunjungi, melainkan ketika pertumbuhan itu membuka kesempatan usaha, memperkuat ekonomi lokal, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara lebih merata.

Songgon telah memiliki modal alam, budaya, pengalaman, dan perjalanan panjang dalam mengembangkan pariwisata. Kini, yang perlu diperkuat adalah keterhubungan antara destinasi, pelaku usaha, petani, peternak, perajin, dan masyarakat di sekitarnya.

Jangan sampai Songgon hanya menjadi tempat orang datang untuk menikmati keindahan alam, sementara masyarakat yang hidup di sekitarnya belum memperoleh manfaat ekonomi yang sepadan.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang pemerataan ekonomi pariwisata tidak cukup dijawab dengan bertambahnya jumlah destinasi atau meningkatnya kunjungan. Jawabannya harus terlihat dari tumbuhnya usaha warga, terserapnya produk lokal, terbukanya lapangan kerja, dan meningkatnya pendapatan masyarakat.

Sebab, pariwisata yang sesungguhnya bukan hanya tentang berapa banyak wisatawan yang datang, melainkan seberapa luas manfaatnya menyebar—hingga ke kebun, kandang, warung, rumah produksi, dan dapur-dapur warga.***

( Yusuf. S - Elang Raung ) 
-

Social Share