Phone Number

+6282317094857

Pasar Pinusan Songgon Bukan Sekadar CFD, 135 UMKM Dorong Perubahan Ekonomi dan Gaya Hidup Masyarakat

Keterangan Gambar : Ketika Membawa Buah Tangan Menjadi Kebanggaan tak ubahnya keluar dari toko modern


By Admin 01 Okt 2026, 07:26:34 WIB 0 Comments

Pasar Pinusan Songgon Bukan Sekadar CFD, 135 UMKM Dorong Perubahan Ekonomi dan Gaya Hidup Masyarakat

```Ditulis Oleh: Yusuf S. – Elang Raung
Kamis, 1 Oktober 2026``` 

BANYUWANGI — Pasar Pinusan di kawasan Wisata Pinus Rebond, Desa Sumberbulu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, mulai menunjukkan wajah yang lebih dari sekadar pasar mingguan. Di balik keramaian Car Free Day (CFD) setiap Minggu pagi, muncul perubahan ekonomi sekaligus sosial di tengah masyarakat pangkuan hutan.

Mulai pukul 06.00 hingga 10.00 WIB, kawasan Pasar Pinusan dipadati pengunjung dari berbagai wilayah Banyuwangi. Mereka datang untuk berolahraga, menikmati suasana hutan, berburu kuliner, berekreasi bersama keluarga, hingga sekadar menghabiskan waktu bersama komunitas dan teman.

Namun, geliat terbesar justru terlihat dari sisi pelaku usaha lokal.

Sebanyak 135 UMKM ikut mengambil bagian dalam aktivitas pasar. Produk yang ditawarkan beragam, mulai hasil bumi, sayuran, makanan tradisional hingga kuliner kekinian.

Fenomena tersebut perlahan mengubah pola ekonomi masyarakat sekitar.

Masyarakat yang sebelumnya lebih banyak menggantungkan aktivitas ekonominya pada profesi sebagai petani hutan, kini mulai mengenal dunia perdagangan secara langsung.

Mereka tidak hanya menjual hasil bumi, tetapi mulai belajar berhadapan dengan konsumen, melakukan transaksi, menawarkan produk, menjaga kualitas dagangan hingga memberikan pelayanan kepada pembeli.

Dari Petani Hutan Belajar Menjadi Pedagang

Pasar Pinusan menjadi ruang belajar yang berlangsung secara alami.

Kehadiran pelaku UMKM dari berbagai latar belakang membuat masyarakat lokal dapat melihat langsung bagaimana sebuah produk ditata, ditawarkan dan dipasarkan kepada konsumen.

Cara berkomunikasi dengan pembeli pun ikut berubah.

Masyarakat yang sebelumnya lebih banyak beraktivitas di lingkungan pertanian dan hutan, kini dituntut mampu berinteraksi dengan ribuan pengunjung yang datang setiap pekan.

Proses tersebut secara perlahan mendorong peningkatan kemampuan masyarakat dalam berkomunikasi dan melayani konsumen.

Bukan hanya kemampuan berdagang yang berkembang. Interaksi dengan pengunjung juga membawa perubahan pada cara masyarakat melihat penampilan dan gaya hidup.

Gaya Berpakaian Ikut Berubah

Perubahan sosial tersebut paling mudah terlihat dari gaya berpakaian.

Jika sebelumnya aktivitas ke kawasan hutan identik dengan pakaian kerja tani, kini sebagian masyarakat mulai tampil lebih rapi dan bersih ketika datang ke Pasar Pinusan.

Pakaian olahraga, sepatu dan busana yang lebih sesuai untuk aktivitas rekreasi mulai menjadi pemandangan yang biasa.

Perubahan itu bukan berarti masyarakat meninggalkan identitas sebagai petani hutan. Sebaliknya, fenomena tersebut menunjukkan adanya proses adaptasi terhadap ruang sosial baru yang terbentuk di Pasar Pinusan.

Masyarakat mulai terbiasa bertemu dengan orang-orang dari berbagai latar belakang setiap Minggu pagi.

Gaya berkomunikasi pun ikut berkembang. Keramahan dalam menerima pengunjung menjadi bagian penting dari aktivitas pasar.

Pasar Pinusan Jadi Wisata Murah Keluarga

Bagi masyarakat desa sekitar, Pasar Pinusan kini tidak hanya dipandang sebagai tempat berbelanja.

Setiap Minggu pagi, pasar tersebut mulai menjadi agenda rekreasi mingguan.

Keluarga datang bersama, anak-anak menikmati suasana alam, sebagian masyarakat berolahraga, sementara lainnya menikmati makanan dan berbelanja.

Dengan biaya yang relatif terjangkau, masyarakat mendapatkan pilihan rekreasi sekaligus ruang berkumpul bersama keluarga.

Fenomena ini membuat Pasar Pinusan perlahan menjadi salah satu alternatif wisata murah di Kecamatan Songgon.

SDM Tumbuh dari Interaksi

Dampak lain yang tidak kalah penting adalah peningkatan sumber daya manusia (SDM).

Peningkatan SDM tidak selalu harus melalui pendidikan formal. Pengalaman berinteraksi langsung dengan konsumen juga menjadi proses pembelajaran bagi masyarakat.

Pedagang belajar membaca kebutuhan pembeli. Mereka belajar menawarkan barang, menjaga kualitas produk, mengatur dagangan, berkomunikasi dengan pelanggan dan memberikan pelayanan yang baik.

Jika berlangsung konsisten, proses tersebut dapat membangun kepercayaan diri dan kemampuan kewirausahaan masyarakat.

Pasar akhirnya menjadi semacam ruang pendidikan informal bagi masyarakat pangkuan hutan.

Ketika Membawa Buah Tangan Menjadi Kebanggaan

Ada fenomena sederhana yang menggambarkan semakin kuatnya posisi Pasar Pinusan dalam kehidupan masyarakat.

Sebagian pengunjung merasa bangga ketika pulang membawa buah tangan atau hasil belanja dari pasar.

Tentengan hasil belanja menjadi bagian dari pengalaman berwisata. Pulang dengan membawa makanan, hasil bumi atau produk UMKM lokal bukan hanya soal barang yang dibeli, tetapi juga menjadi tanda bahwa mereka menikmati aktivitas di Pasar Pinusan.

Di sisi lain, transaksi tersebut memberikan dampak langsung kepada pelaku UMKM.

Uang yang dibelanjakan pengunjung kembali berputar di lingkungan masyarakat sekitar.

Lebih dari Sekadar Pasar Mingguan

Pasar Pinusan menunjukkan bahwa sebuah kegiatan ekonomi sederhana dapat berkembang menjadi ruang perubahan sosial.

Di satu sisi, masyarakat memperoleh kesempatan menambah penghasilan. Di sisi lain, mereka mendapatkan pengalaman baru dalam berkomunikasi, berdagang dan menerima masyarakat dari luar wilayah.

Bagi pengunjung, Pasar Pinusan menawarkan kombinasi wisata alam, olahraga, kuliner dan rekreasi keluarga.

Sementara bagi masyarakat pangkuan hutan, pasar tersebut membuka pintu menuju profesi baru tanpa harus meninggalkan akar kehidupan mereka sebagai petani.

Jika dikelola secara berkelanjutan, Pasar Pinusan berpotensi menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat sekaligus ruang peningkatan kualitas SDM di Desa Sumberbulu dan wilayah sekitar LMDH Rimba Ayu.

Pasar Pinusan pada akhirnya bukan hanya tentang lapak dan transaksi setiap Minggu pagi. Di dalamnya ada cerita tentang masyarakat hutan yang mulai beradaptasi, belajar berdagang, membangun kepercayaan diri dan perlahan mengalami perubahan gaya hidup.

Dari hutan, mereka belajar bertani.

Dari Pasar Pinusan, mereka mulai belajar berniaga.

Dan dari ribuan pengunjung yang datang setiap Minggu pagi, masyarakat mendapatkan satu hal yang tak kalah penting: pengalaman untuk terus berkembang.***

Social Share