Keterangan Gambar : Suudi salah satu bengkel jasa ban yang terkena dampak
Ditulis oleh: Yusuf. S – Elang Raung
Senin, 5 Oktober 2026
BANYUWANGI — Kehadiran CFD Pasar Pinusan di kawasan Wisata Pinus Rebond mulai menunjukkan dampak terhadap pergerakan ekonomi masyarakat. Sejak pertama kali digelar pada Minggu, 13 September 2026, aktivitas yang berlangsung setiap Minggu pagi tersebut tidak hanya menghidupkan lapak-lapak UMKM, tetapi juga memberikan efek berantai bagi berbagai usaha masyarakat di sekitar kawasan.
Dampak tersebut mulai dirasakan oleh masyarakat Desa Sumberbulu, khususnya warga di wilayah pangkuan hutan, hingga masyarakat Selingkar Songgon. Meningkatnya kunjungan masyarakat dan wisatawan membuat perputaran ekonomi tidak berhenti di dalam area CFD, tetapi ikut mengalir ke sejumlah usaha pendukung di luar kawasan pasar.
CFD Pasar Pinusan sendiri digelar rutin setiap Minggu pagi, mulai pukul 06.00 hingga 10.00 WIB, di kawasan pangkuan hutan Wisata Pinus Rebond.
Kehadiran pasar tersebut sekaligus membuka ruang baru bagi para petani hutan untuk mengembangkan sumber pendapatan melalui kegiatan UMKM. Sejumlah masyarakat yang sebelumnya mengandalkan sektor kehutanan kini mulai mengambil bagian dalam aktivitas perdagangan di CFD Pasar Pinusan.
Namun, geliat ekonomi tersebut ternyata tidak hanya dirasakan oleh para pedagang yang membuka lapak di dalam kawasan CFD.
Dari Toko Kelontong hingga Penjual BBM Ikut Merasakan Dampaknya
Hasil wawancara tim Elang Raung dengan sejumlah pemilik usaha di sekitar kawasan pangkuan hutan Wisata Pinus Rebond menunjukkan adanya peningkatan aktivitas ekonomi seiring bertambahnya kunjungan ke CFD Pasar Pinusan.
Toko sembako dan toko kelontong menjadi salah satu usaha yang ikut merasakan dampaknya. Para pedagang UMKM membutuhkan berbagai barang untuk menunjang kegiatan berjualan setiap Minggu. Mereka melakukan kulakan, mulai dari bahan baku mentah untuk membuat kue dan makanan hingga barang pabrikan seperti air mineral dan berbagai kebutuhan lainnya.
Dengan demikian, aktivitas perdagangan di CFD turut menciptakan permintaan terhadap usaha ritel yang berada di luar area pasar.
Efek serupa juga dirasakan oleh para penjual BBM eceran. Meningkatnya mobilitas kendaraan menuju kawasan Wisata Pinus Rebond membuat kebutuhan bahan bakar menjadi salah satu peluang usaha yang ikut terdorong.
Padatnya kendaraan pengunjung juga membawa peluang bagi pelaku jasa tambal ban. Ketika terjadi kendala pada ban kendaraan, keberadaan jasa tambal ban di sekitar kawasan menjadi alternatif bagi pengunjung untuk mendapatkan layanan tanpa harus meninggalkan wilayah tersebut terlalu jauh.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa keberadaan sebuah pusat aktivitas masyarakat dapat menciptakan mata rantai ekonomi yang lebih luas. Pergerakan ekonomi tidak hanya terjadi pada pedagang utama, tetapi juga menyentuh usaha-usaha yang menyediakan kebutuhan barang maupun jasa bagi para pedagang dan pengunjung.
Minggu Keempat, Arus Kendaraan Semakin Padat
Memasuki penyelenggaraan minggu keempat pada Minggu, 4 Oktober 2026, suasana di kawasan CFD Pasar Pinusan terlihat semakin ramai. Arus kendaraan pengunjung menuju kawasan Wisata Pinus Rebond juga semakin padat dibandingkan awal penyelenggaraan.
Pada hari yang sama, kawasan tersebut juga bertepatan dengan kegiatan kumpulnya para guru ngaji se-Wilayah Banyuwangi. Bertemunya dua aktivitas tersebut semakin menambah mobilitas masyarakat dan kendaraan di sekitar kawasan.
Situasi tersebut sekaligus memberikan gambaran mengenai besarnya ruang ekonomi yang dapat tumbuh apabila aktivitas masyarakat dan kunjungan wisata terus berkembang.
Bagi masyarakat di wilayah pangkuan hutan, khususnya Desa Sumberbulu, hadirnya CFD Pasar Pinusan memberikan alternatif untuk mengembangkan usaha selain mengandalkan sektor kehutanan. Sementara bagi masyarakat Songgon pada umumnya, peningkatan aktivitas wisata dan perdagangan membuka peluang bagi berbagai usaha pendukung.
Bukan Sekadar Pasar Mingguan
CFD Pasar Pinusan pada akhirnya tidak hanya dapat dilihat sebagai pasar mingguan yang menyediakan ruang bagi UMKM untuk berjualan. Aktivitas tersebut mulai membentuk ekosistem ekonomi lokal, di mana satu kegiatan dapat mendorong munculnya kebutuhan dan peluang bagi usaha lainnya.
Pedagang membutuhkan bahan baku. Bahan baku dibeli dari toko dan pemasok. Pengunjung membutuhkan BBM untuk kendaraan. Kendaraan yang semakin banyak juga meningkatkan kebutuhan terhadap jasa pendukung, termasuk tambal ban.
Rangkaian aktivitas tersebut menciptakan perputaran ekonomi yang melibatkan lebih banyak masyarakat.
Jika tren kunjungan terus meningkat dan pengelolaan kawasan dilakukan secara berkelanjutan, CFD Pasar Pinusan berpotensi menjadi salah satu ruang pertumbuhan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan hutan.
Bagi masyarakat Sumberbulu dan Songgon, geliat tersebut bukan hanya tentang semakin ramainya pasar setiap Minggu pagi, tetapi juga tentang munculnya peluang-peluang ekonomi baru yang menyebar dari dalam pasar hingga ke usaha masyarakat di sekitarnya.
Dari lapak UMKM, toko ritel, penjual BBM eceran hingga jasa tambal ban, geliat CFD Pasar Pinusan mulai memperlihatkan bagaimana meningkatnya kunjungan dapat ikut menggerakkan roda ekonomi masyarakat secara lebih luas.***