Keterangan Gambar : Pasar Pinusan
```Oleh : Yusuf. S - Elang Raung```
Di sudut kehidupan yang sederhana, terkadang kita menemukan pelajaran yang begitu besar.
Di antara hijaunya pepohonan pinus dan kesejukan udara pagi , ada sosok seorang ibu tua yang setiap Minggu pagi datang dengan senyum sumringah. Usianya telah 78 tahun, namun semangatnya seakan belum mengenal kata berhenti.
Beliau adalah Mbok Sudiah, seorang ibu tua petani hutan, masyarakat pangkuan hutan yang menggantungkan kehidupan dari tanah, kebun, dan hasil bumi di sekitar hutan.
Setiap Minggu pagi, ketika kawasan wisata Pinus Rebond mulai didatangi pengunjung, Mbok Sudiah turut hadir menjadi bagian dari denyut kehidupan UMKM Pasar Pinusan Songgon. Pasar yang digelar sejak pukul 06.00 hingga 10.00 WIB itu bukan sekadar tempat berjualan. Bagi Mbok Sudiah, pasar tersebut adalah ruang untuk terus bergerak, bertemu sesama, sekaligus mencari rezeki untuk menyambung kehidupan di usia senjanya.
Di lapaknya yang sederhana, berbagai hasil jerih payahnya tersaji. Ada selada air, pakis, dan hasil bumi lainnya yang ia dapatkan dari aktivitas bertani di sekitar hutan.
Sayuran-sayuran itu bukan sekadar barang dagangan.
Di balik setiap ikat selada dan pakis, ada cerita tentang tangan yang tetap bekerja, tentang tanah yang dirawat, tentang pagi-pagi yang dimulai dengan semangat, dan tentang seorang ibu yang memilih untuk terus berikhtiar meski usia telah senja.
Kopi Deplok dari Dapur Ndeso
Menariknya, Mbok Sudiah tidak hanya membawa hasil bumi.
Ia juga melengkapi dagangannya dengan “Kopi Deplok”, kopi khas dapur ndeso hasil karyanya sendiri.
Secangkir kopi sederhana itu menjadi bagian lain dari cerita Mbok Sudiah. Dengan racikan dan cara penyajian yang bersahaja, kopi tersebut seolah membawa pengunjung kembali pada suasana kampung: hangat, sederhana, dan penuh keakraban.
Bagi Mbok Sudiah, berjualan bukan semata-mata tentang berapa banyak yang terjual hari itu.
Ada harapan yang lebih dalam: semoga dari sedikit hasil yang diperoleh, ada rezeki yang cukup, ada keberkahan, dan ada kemampuan untuk terus menjalani kehidupan.
Senyumnya tetap merekah ketika menawarkan dagangannya.
Tidak banyak keluhan yang terdengar.
Yang terlihat justru kegembiraan seorang ibu yang masih diberi kesempatan untuk bergerak, bekerja, dan bertemu banyak orang.
Bergerak di Usia Senja
Kisah Mbok Sudiah barangkali terlihat sederhana.
Namun dari kesederhanaan itulah tersimpan pesan kehidupan yang begitu kuat.
Usia 78 tahun tidak membuatnya berhenti berkarya. Tubuh yang tak lagi muda tidak menjadi alasan untuk kehilangan semangat. Selama masih ada kemampuan untuk bergerak, ia memilih bergerak. Selama masih ada kesempatan untuk berusaha, ia memilih berusaha.
Mbok Sudiah mengajarkan bahwa perjuangan hidup tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar.
Kadang perjuangan itu hanya berupa keberanian bangun pagi, membawa hasil kebun, membuka lapak kecil, menyapa pembeli dengan senyum, lalu pulang membawa sedikit rezeki untuk kebutuhan esok hari.
Itulah sudut indah merawat kehidupan.
Merawat kehidupan bukan hanya tentang menjaga alam dan hutan, tetapi juga tentang menjaga semangat manusia yang hidup berdampingan dengannya.
Masyarakat pangkuan hutan seperti Mbok Sudiah memiliki hubungan yang begitu dekat dengan alam. Hutan memberikan ruang untuk bertani, sementara mereka menjaga dan memanfaatkan hasilnya dengan penuh kesederhanaan.
Berpasrah, Bukan Berhenti Berusaha
Ada sebuah pesan yang begitu kuat dari sosok Mbok Sudiah:
Berpasrah bukan berarti berhenti berusaha.
Berpasrah adalah menyerahkan hasil kepada Tuhan setelah melakukan ikhtiar sebaik mungkin.
Di usianya yang senja, Mbok Sudiah tetap menjalani ikhtiar itu. Ia membawa selada, pakis, hasil bumi, dan Kopi Deplok ke Pasar Pinusan. Selebihnya, ia serahkan kepada Yang Maha Kuasa.
Jika hari itu dagangannya laris, ia bersyukur.
Jika belum banyak yang terjual, ia tetap tersenyum dan berharap esok ada rezeki yang lebih baik.
Sederhana, tetapi dalam.
Karena pada akhirnya, kehidupan memang bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki, melainkan tentang seberapa kuat kita menjaga harapan dan terus melangkah.
Sebuah Cermin dari Pinggir Hutan
Mbok Sudiah adalah satu dari sekian banyak wajah masyarakat kecil yang hidup berdampingan dengan alam.
Dari seorang ibu berusia 78 tahun di sebuah pasar Minggu pagi, kita belajar tentang keteguhan, kemandirian, kesederhanaan, dan rasa syukur.
Ia mengajarkan bahwa usia boleh bertambah, langkah mungkin semakin pelan, tetapi semangat untuk menjalani kehidupan tidak harus ikut menua.
Di antara aroma kopi, hijaunya sayuran, kesejukan pepohonan pinus, dan riuh kecil pasar pagi, Mbok Sudiah seperti sedang menyampaikan pesan tanpa banyak kata:
Teruslah bergerak.
Teruslah berikhtiar.
Rawat kehidupan dengan apa yang kita punya.
Dan setelah semuanya dilakukan, berpasrahlah kepada Tuhan sambil tetap berharap akan datangnya berkah.
Sebab rezeki tidak selalu datang dalam jumlah besar.
Kadang ia hadir dalam bentuk lapak kecil di pasar pagi, sebungkus sayuran dari kebun, secangkir Kopi Deplok, senyum seorang ibu tua, dan hati yang tetap bahagia karena masih diberi kesempatan untuk bekerja.
Itulah kisah Mbok Sudiah.
Kisah sederhana dari pangkuan hutan Songgon, yang mengingatkan kita semua bahwa selama kehidupan masih memberi kesempatan untuk melangkah, tidak ada alasan untuk berhenti berharap.***