Keterangan Gambar : AirPotensi Hutan, Pegunungan, Sungai, dan Budaya Menjadi Kekuatan Wisata Berbasis Masyarakat, Air Terjun Lider daya Tarik Alam yang Exsiotik ,
Oleh: Yusuf S. – Elang Raung
(Pegiat Lingkungan dan Wisata Petualangan)
SONGGON, BANYUWANGI** – Jika Kota Batu di Malang dikenal dengan wisata pegunungan dan Cikole di Bandung identik dengan bentang hutan pinus serta udara sejuk, Kecamatan Songgon di Banyuwangi memiliki karakter alam yang tak kalah menarik. Berada di kaki Gunung Raung, Songgon menyimpan perpaduan hutan, perkebunan, sungai, air terjun, danau alam, perbukitan, serta kekayaan budaya masyarakat yang berpotensi dikembangkan sebagai kawasan wisata berbasis alam dan pemberdayaan masyarakat.
Songgon bukan sekadar wilayah perdesaan di lereng gunung. Bentang alamnya membentuk ruang kehidupan yang mempertemukan masyarakat, hutan, sumber air, pertanian, perkebunan, dan aktivitas wisata. Potensi inilah yang membuat Songgon layak diperhitungkan sebagai salah satu kawasan unggulan wisata alam di Banyuwangi.
Hutan dan Perkebunan Mengelilingi Kehidupan Desa
Dari sembilan desa yang berada di Kecamatan Songgon, sejumlah desa memiliki kedekatan langsung dengan kawasan hutan dan perkebunan. Di antaranya Bangunsari di sisi timur, Songgon di bagian tengah, serta Bayu, Sumberbulu, Sragi, dan Sumberarum yang berada di kawasan dengan karakter alam kaki Gunung Raung.
Bentang alam tersebut mencakup hutan produksi, perkebunan, hingga kawasan hutan lindung. Sebagian kawasan hutannya didominasi tanaman pinus yang berada dalam wilayah kerja Perhutani KPH Banyuwangi Barat, berdampingan dengan perkebunan dan lahan masyarakat.
Kontur tanah yang beragam, mulai dari lembah, aliran sungai, perbukitan, hingga kawasan berhawa sejuk, menciptakan daya tarik tersendiri. Ditambah karakter curah hujan yang relatif tinggi di sejumlah wilayah, Songgon memiliki modal alam yang mendukung tumbuhnya beragam wisata berbasis lingkungan.
Namun, potensi tersebut tidak cukup hanya dipandang sebagai keindahan pemandangan. Hutan, sungai, dan sumber air merupakan bagian penting dari sistem kehidupan yang harus dijaga agar manfaat ekologis dan ekonominya dapat berjalan beriringan.
Air Terjun, Sungai, dan Danau Alam Menjadi Daya Tarik
Kekayaan air menjadi salah satu identitas wisata Songgon. Sejumlah air terjun telah dikenal dan dikembangkan sebagai destinasi, di antaranya Air Terjun Kembar Arum, Telunjuk Raung, dan Air Terjun Lider yang menawarkan karakter lanskap alam yang khas.
Keberadaan Rowo Bayu juga memperkaya ragam destinasi. Kawasan danau alam ini telah lebih dahulu dikenal sebagai tujuan wisata dengan daya tarik lanskap, suasana sejuk, dan nilai sejarah serta budaya yang melekat pada masyarakat setempat.
Di sisi lain, Sungai Badeng atau Mbadheng dan Sungai Kumbo memiliki peran penting dalam pengembangan wisata petualangan. Aliran sungai tersebut dimanfaatkan untuk kegiatan arung jeram dan tubing yang menawarkan pengalaman menyusuri sungai dengan karakter alam kaki gunung.
Aktivitas wisata sungai tentu harus disertai standar keselamatan, pemantauan kondisi debit air, kesiapan pemandu, dan prosedur evakuasi. Dengan pengelolaan yang tepat, sungai bukan hanya menjadi sumber daya wisata, melainkan juga ruang edukasi tentang pentingnya menjaga daerah aliran sungai.
Hutan Pinus dan Perbukitan Menawarkan Pengalaman Berbeda
Selain wisata air, bentangan hutan pinus di sejumlah desa menjadi modal pengembangan wisata rekreasi, berkemah, kegiatan keluarga, hingga wisata edukasi lingkungan.
Kawasan hutan pinus menawarkan suasana yang berbeda dari wisata perkotaan. Udara sejuk, pepohonan yang menjulang, serta lanskap alami dapat menjadi daya tarik bagi pengunjung yang ingin beristirahat sekaligus menikmati lingkungan terbuka.
Sementara itu, perbukitan memberikan perspektif lain dalam menikmati Songgon. Green Gumuk Candi (GGC) di Desa Songgon, misalnya, menawarkan pengalaman menikmati panorama kawasan dari ketinggian.
Ragam destinasi tersebut menunjukkan bahwa Songgon tidak harus bergantung pada satu jenis wisata. Wisata air, hutan, perbukitan, rekreasi keluarga, dan petualangan dapat saling melengkapi untuk membangun pengalaman kunjungan yang lebih beragam.
## Kekayaan Budaya dan UMKM Menjadi Penggerak Ekonomi
Daya tarik Songgon tidak berhenti pada bentang alamnya. Masyarakatnya memiliki latar belakang yang majemuk, antara lain Jawa, Madura, dan Osing, dengan beragam tradisi, kesenian, serta kearifan lokal yang dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata.
Keragaman tersebut merupakan modal sosial untuk mengembangkan wisata budaya yang tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk mempertahankan identitas dan memperoleh manfaat ekonomi.
Di sinilah peran UMKM menjadi penting. Kuliner lokal, kopi, olahan hasil pertanian, produk perkebunan, hingga kerajinan dan suvenir dapat menjadi bagian dari rantai ekonomi pariwisata.
Bayangkan ketika wisatawan yang datang menikmati air terjun juga membeli makanan dari pedagang lokal, singgah di kedai kopi milik warga, menggunakan jasa pemandu setempat, membeli produk UMKM, atau menginap di homestay milik masyarakat.
Belanja wisatawan yang semula terkonsentrasi di satu destinasi dapat menyebar menjadi penghasilan bagi lebih banyak keluarga. Petani, pedagang, pengelola parkir, pemandu wisata, pelaku transportasi, pemilik homestay, dan kelompok seni memiliki peluang untuk terlibat sesuai kapasitas masing-masing.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan pariwisata Songgon tidak semata-mata jumlah kunjungan, melainkan juga seberapa besar manfaat ekonomi yang benar-benar dirasakan masyarakat di sekitar destinasi.
## Menjadi Batu dan Cikole-nya Banyuwangi, Mungkinkah?
Perbandingan Songgon dengan Kota Batu di Malang maupun Cikole di Bandung bukan berarti ketiganya memiliki kondisi dan skala pariwisata yang sama. Perbandingan tersebut lebih tepat menjadi gambaran tentang potensi yang dapat dikembangkan.
Songgon memiliki modal berupa kawasan kaki gunung, hutan pinus, sungai, air terjun, danau alam, perbukitan, serta kehidupan masyarakat yang kaya akan keragaman budaya. Apabila seluruh potensi itu terhubung dalam pengelolaan yang baik, Songgon berpeluang membangun identitas sebagai kawasan wisata alam dan petualangan yang memiliki daya tarik sepanjang tahun.
Untuk mewujudkannya, diperlukan kolaborasi pemerintah, pemerintah desa, pengelola destinasi, Perhutani, pemilik perkebunan, komunitas lingkungan, pelaku wisata, dan UMKM.
Langkah konkretnya antara lain menyusun peta potensi dan jalur wisata antardesa, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, memperkuat standar keselamatan wisata petualangan, memperbaiki akses dan informasi destinasi, serta membangun promosi bersama. Mekanisme kemitraan juga perlu memastikan kesempatan usaha terbuka bagi masyarakat sekitar, bukan hanya bagi pengelola utama destinasi.
Pada saat yang sama, pembangunan wisata harus memperhatikan daya dukung lingkungan. Pengelolaan sampah, perlindungan mata air, konservasi hutan, pengendalian pembangunan di kawasan rawan bencana, dan pemantauan sungai harus menjadi bagian dari perencanaan.
Sebab, daya tarik utama Songgon justru terletak pada alamnya. Jika lingkungan rusak, modal terbesar pariwisata itu pun akan ikut terancam.
## Menjaga Alam, Menguatkan Ekonomi Desa
Songgon memiliki alasan untuk terus tumbuh sebagai kawasan wisata unggulan Banyuwangi. Bukan hanya karena hutan pinusnya, bukan pula semata-mata karena air terjun dan sungainya, melainkan karena seluruh potensi tersebut hidup berdampingan dengan masyarakat desa.
Tantangannya adalah menyatukan berbagai potensi yang selama ini berkembang di masing-masing lokasi menjadi kekuatan kawasan yang saling mendukung. Setiap desa dapat memiliki ciri khas, setiap destinasi dapat membangun kerja sama, dan setiap pelaku usaha dapat memperoleh peluang yang lebih luas.
Jika Kota Batu memiliki daya tarik wisata pegunungan dan Cikole dikenal dengan suasana hutan pinusnya, Songgon dapat mengembangkan karakter khasnya sendiri: wisata kaki Gunung Raung yang memadukan hutan, air, petualangan, budaya, dan pemberdayaan masyarakat.
Pada akhirnya, pariwisata yang baik bukan hanya mengundang orang untuk datang, tetapi juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk berkembang tanpa kehilangan jati diri dan merusak lingkungan yang menjadi sumber kehidupannya.
**Songgon punya alam untuk dijelajahi, budaya untuk dikenali, dan masyarakat untuk diberdayakan. Menjaga semuanya tetap lestari adalah kunci agar manfaat pariwisata dapat dirasakan hingga generasi mendatang.**